Cintai Fakir Miskin

Perjalanan kereta dari Jogja menuju Bandung ditemani bapak kali ini. Dalam satu bulan ini bapak sudah pp beberapa kali. Yah bapak memang sangat produktif di usia yang sudah lebih dari 70 tahun masih saja kuat. Walau bapak punya penyakit gula dan jantung, tapi tidak kelihatan seperti orang sakit. Sedari usia 19 tahun bapak memang sudah berjuang mencari makan dengan meninggalkan kota kelahirannya di Gombong untuk ke Jakarta. Bapak beberapakali cerita bagaimana beliau berjuang hidup bersama mama.Satu kata buat bapak saya “Takjub” . Banyak sekali pelajaran hidup beliau, bapak adalah seorang pekerja keras yang sangat mempunyai prinsip, Bagi beliau apapun perbuatan kita haruslah bermanfaat baik untuk keluarga maupun untuk agama.

Beberapa saat setelah kereta berangkat bapak mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya dan menyodorkannya ke saya, sambil berkata “coba kamu baca ini bagus buat direnungkan”. Lalu saya buka lembaran kertas tadi yang ternyata flyer yang biasa dibagikan pada saat sholat jumat. Judulnya “Cintai Orang Miskin“. Setelah saya baca lalu kamipun berdua sharing tentang ini. Bapak dan mama selain mengajarkan juga memberikan contoh, beliau berdua orang yang dalam bahasa jawanya grapyak. Dilingkungan rumah pun bapak dan mama cukup disayang, bahkan mama sangat sayang pada kakak-kakaknya yang laki-laki semua. Walaupun semua sudah berkeluarga dan mempunyai cucu mama selalu memperhatikan semua saudaranya dan ponakannya.

Mencintai orang fakir miskin memang dianjurkan dalam agama. Salah satu rukun Islam adalah membayar zakat. Sangat besar murka Allah terhadap orang yang mengaku hamba Allah, tapi lalai dan tidak memperdulikan  akan jeritan kaum papa.  Keberanian kita untuk mencintai diri lain seperti kita mencintai diri sendiri, adalah tolok ukur keimanan seseorang.  Nabi saw. bersabda: Belum beriman seseorang dari kalian sehingga mencintai saudaranya (sesama manusia) seperti apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.
Ribuan anak yang terlantar kehidupannya oleh berbagai sebab sosial ekonomi. Di antara mereka ada yang menjadi pengemis dan gelandangan. Ada pula yang tercecer di jalanan sebagai pengamen dan pedagang asongan. Sebagian lagi ditampung di panti-panti asuhan. Mereka semua membutuhkan uluran kasih sayang dan perhatian kita. Hakekatnya semua yang kita miliki yang kita genggam sepenuhnya hanya titipan  Allah, sehingga sewaktu-waktu Sang Pemilik berkehendak lewat agama dan bangsa membutuhkan, tidak ada setitik keberatanpun menyerahkan kembali. Termasuk tidak segan-segan memberikan makanan yang dicintai dan menyantuni anak yatim, fakir miskin, orang terlantar.Sebab kita tahu bahwa cinta fakir miskin adalah akhlak dan sunnah para Nabi. Diakhir sharing bapakpun berpesan dengan memberi dan mencintai fakir miskin, kita akan terhindar dari sifat serakah dan kikir. Terima kasih pak,begitu banyak pelajaran yang saya petik dari perjalanan hidupmu. Sungkem dari anakmu…

suatu hari setelah perjalanan Jogja-Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s