Awas Anak-anak Kecanduan Gadget

Gadget anatara kebutuhan dan gaya hidup, Gadget disukai, digandrungi tua muda bahkan anak-anak. Apa yang terjadi jika Gadget ini ditangan anak-anak? Gadget diciptakan untuk membuat kehidupan di zaman modern ini bertambah ringan dan menyenangkan.Tapi tidak hanya sisi positifnya saja namun teknologi ini ternyata memiliki dua sisi bagi penggunanya. Tak hanya membawa manfaat, namun juga bisa berdampak negatif, terutama jika digunakan melampaui batas.

Meski bertujuan mulia menunjang peningkatan pengetahuan namun tanpa pengawasan, gadget adalah benda berbahaya. Bukan hal yang aneh sekarang siswa SD pun membawa telepon seluler yang sebagian besar siswa menggunakan telepon seluler (ponsel) canggih dengan ragam fitur yang terkoneksi ke internet karena dapat mengakses game online dan layanan facebook.Bukan hanya telepon seluler yang canggih, laptop termasuk gadget yang sudah  cukup banyak juga digunakan siswa SD ini. Laptop bisa mengakses internet dengan mudah . Mudahnya mendapat informasi melalui internet juga merupaka salah satu yang harus diwaspadai. Dampak yang sering terlihat, Gadget selalu taruh disaku sebentar-sebentar asyik dengan telepon seluler, bahkan bisa berjam-jam asyik dengan alat teknologi ini. Menurut seorang psikolog anak salah satu ciri anak-anak kecanduan gadget sering menyendiri dengan benda ini. Jika ditanya kegiatan sekolah jawabannya lebih banyak tidak tahu atau sedikit marah. Dampak lainnya adalah perilaku yang selalu memuaskan dirinya, kurangnya rasa empati ketika bersosalisasi didunia sebenarnya. Jika anak lebih sering main game online yang menurut saya sadis ya, karena kalau main tembak-tembakan darahnya tuh muncrat kemana-mana, atau game online yang ada gambar semi porno baik pakaian maupun tingkahnya. Pengaruh penggunaan facebook dimana perasaan cinta para remaja di jaringan sosial itu sangat mudah tertular ke anak-anak SD pengguna Facebook.  “Ada kasus anaknya masih kecil, tapi dia beli coklat ditulisi I love you, mereka jadi lebih cepat puber dan meniru kakak-kakaknya di Facebook. Pada akhirnya anak ini menjadi pasif,kurang beraktivitas kurang bersosialisasi,cepat dewasa dan tidak bisa bekerja teamwork. Mungkin salah satu untuk mengurangi dampak ini bisa memasukan anak-anak ke aktivitas non formal, seperti club olahraga, kesenian atau yang sifanya bisa menambah pergaulan positif.

Peran orang tua dan guru  sangat dibutuhkan untuk memproteksi dampak negatif penggunaan teknologi ini. Sementara sekolah menurutnya sejauh ini memang tak melarang siswa membawa ponsel ke sekolah, kecuali digunakan saat jam belajar.Paling tidak, ada beberapa hal yang dapat dicoba untuk meminimalkan letakkan teve maupun komputer di ruang keluarga, sehingga walaupun anda maupun si kecil sibuk menggunakannya, namun masih ada interaksi yang terjadi di dalam keluarga. Anda pun dapat lebih mudah mengontrol apa yang diakses anak lewat dua benda ini. Hal ini bisa meminimalkan kemungkinan anak jadi addicted pada berbagai peralatan berteknologi tinggi yang tersedia di rumah. Tingkatkan kebersamaan dalam melakukan berbagai kegiatan, dan mengapa tidak mencoba mematikan semua gadget di saat-saat berharga ini. Semoga bermanfaat (sumber: berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s